Ilustrasi Depresi - Sumber Pinterest
Mahasiswa yang memiliki deadline tugas atau bahkan pekerjaan yang menumpuk dapat menimbulkan stres berlebih. Dilansir dari (Kemenkes 2021) stres yang berlebih dapat menimbulkan penyakit seperti sakit kepala, depresi, asam lambung, asma, dan dapat menggangu waktu tidur.
Faktor-faktor stres ditimbulkan oleh berbagai macam alasan selain dealine tugas yang berlebihan, dapat juga berawal dari masalah keluarga, pembullyan, masalah sikis, dll. Beberapa AI sudah dikembangkan untuk membantu manusia dalam meredakan stres mereka, apakah efektif?
Sebagian orang setuju bahwa walaupun AI tidak memiliki empati atau emosi namun solusi yang diberikannya bisa saja membantu untuk meredakan kekhawatiran orang-orang, dan alasan lain seperti AI tidak akan menghakimi, siap siaga 24 jam, respon yang lembut dan terstruktur, menjadi alasan utama para mahasiswa menggunakannya untuk mencari solusi.
Dampak positif AI sebagai pendamping emosional
- Ruang aman untuk berekspresi secara bebas
AI tidak memiliki kemampuan untuk menyebarkan (terlindungi oleh hak dan regulasi dari AI) kepada siapapun, selain itu AI tidak dapat menghakimi kamu ketika berekspresi karena dia tidak pernah merasakannya secara langsung.
- Meningkatkan kesadaran diri
AI seperti Wysa dan Woebot dirancang dengan pendekatan CBT (Cognitive Behavioral Therapy), dimana AI akan memberi solusi demi solusi hingga mengubah sisi negatif kamu menjadi sesuatu yang dapat diubah atau diselesaikan.
- Mendorong rutinitas sehat
AI memiliki fitur reminder seperti "Apakah kamu sudah olahraga hari ini?" , "Apakah kamu sudah membaik hari ini?" Dan sebagainya, berbeda dengan manusia terkadang kita sebagai terapi bisa saja lupa akan meningatkan atau mengawasi mereka bagi yang membutuhkan pengawasan lebih.
- Menjembatani terapi dan mahasiswa
Kebanyakan mahasiswa masih malu untuk mengunjungi terapi dan tidak sedikit dari mereka mengalami depresi karena itu, oleh sebab itu AI adalah jembatan bagi mereka yang belum cukup berani untuk speak up.
Dampak negatif AI sebagai pendamping emosional
- Ilusi kedekatan emosional
AI tidak memiliki emosi maupun empati, mereka hanya menjawab berdasarkan data yang tersimpan, jawaban yang sudah dibuat sedemikian rupa, sehingga ada beberapa kasus yang kurang efektif.
- Respon emosi yang salah dan sulit menyelesaikan masalah yang rumit
Efek samping dari respon emosi yang salah dapat berakibat fatal bagi para mahasiswa yang memerlukan solusi. Berbeda dengan manusia sebagai terapi, mereka dapat menangani masalah yang lebih kompleks
- Menghambat interaksi sosial
Mahasiswa yang tidak berani speak up dan sudah terlanjur nyaman menggunakan AI sebagai teman terapi mereka akan sulit untuk berinteraksi dan tidak bagus untuk jangka panjang.
Rekomendasi AI sebagai teman terapi
Wysa AI adalah kecerdasan buatan yang menggunakan pendekatan therapy cocok untuk meringankan beban kecil dan relaksasi harian.
Woebot AI adalah kecerdasan buatan untuk memahami emosi (dengan machine learning yang mempelajari dan menganalisis percakapan sebelumnya) dan pola pikir negatif, Woebot AI lebih mirip seperti manusia yang dapat dijadikan teman curhat.
Youper AI adalah kecerdasan buatan yang terkhusus untuk menangani gangguan jiwa dan dapat memberi solusi untuk menjaga diri dan menjaga mood.
Sumber:
- https://ayosehat.kemkes.go.id/10-penyakit-akibat-stres-berkepanjangan#:~:text=Penyakit%20Penyerta%20Stres,Asma
Komentar
Posting Komentar