Langsung ke konten utama

SOFTSKILL YANG DIPERLUKAN UNTUK BERTAHAN DI MASA DEPAN: LITERASI AI

Ilustrasi Pengembangan Softskill - Sumber Pinterest

Pada era teknologi Artificial Intelligence (AI) yang sedang berkembang pesat, sebagai anak muda perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkannya. Teknologi AI memiliki kemampuan generatif dimana ia akan selalu belajar dan berkembang dari memori yang ia dapat, semakin banyak memori semakin cepat ia berkembang. Sehingga kemampuan membaca, menulis, dan berhitung saja tidak lagi cukup. Dunia kerja kini menuntut kemampuan baru yaitu literasi AI yang diartikan bukan sekadar tahu cara memakai AI, tetapi paham bagaimana AI berpikir, bagaimana hasilnya, dan bagaimana mengarahkannya untuk hasil yang sesuai.

Generasi muda yang tumbuh bersama teknologi terutama mahasiswa dan anak muda lainnya yang ingin memasukki dunia kerja kini dihadapkan pada kenyataan bahwa AI bukan lagi pesaing, tapi partner kerja. Pertanyaannya: siapa yang bisa bertahan? Sebelum kita menjawab, mari kita pahami terlebih dahulu softskill yang dibutuhkan untuk bertahan di era AI.

  • Literasi data
Literasi data merupakan kemampuan membaca, mamahami, dan menganalisis sebuah data berupa chart, trenline, dan analytics lainnya. Kenapa ini penting? AI dan data merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan, AI dapat memberimu jawaban dan solusi serta rekomendasi semua melalui pemahamannya dan analisisnya terhadap data. Sehingga jika ingin memahami dan memanfaatkan AI seseorang harus dapat memahami data terlebih dahulu.

  • Kemampuan berpikir kritis dan problem solving
Berpikir kritis adalah kemampuan untuk tidak langsung percaya akan seluruh informasi yang diberi AI, seseorang harus mencari tahu fakta, validitas, dan harus dapat menganalisis suatu situasi dari berbagai sudut pandang, agar akhirnya membuat penilaian logis. Kemampuan ini mirip dengan problem solving, dimana kita harus memiliki kemampuan untuk menilai suatu masalah dan memikirkan solusi yang tepat untuk menyelesaikannya.

Kenapa kita butuh pemikiran yang kritis? Karena walaupun AI memiliki kemampuan analisis yang cepat, terkadang AI mampu memberikan jawaban yang dibuat-buat biasa disebut AI Hallucination.

  • Kemampuan berkomunikasi secara digital
Kemampuan berkomunikasi mencangkup gaya penulisan teks, gaya penyampaian secara digital, dan gaya visual yang diunggah melalui ruang digital seperti sosial media. Kemampuan ini penting karena ketika AI sudah mulai mengambil alih, pekerjaan akan mulai berubah menjadi pendekatan daring misalnya tren-tren baru sudah bermunculan lewat sosial media, peluang pekerjaan baru sudah mulai bermunculan.

Walaupun AI memiliki kemampuan untuk menciptakan konten yang tepat, namun isi kontennya masih minim empati dan emosional, disinilah manusia hadir dengan kemampuan mengerti komunikasi dapat memanfaatkan dan mengubah isi konten AI menjadi lebih penuh emosi dan mudah diterima oleh orang lain.

  • Adaptasi teknologi baru
Sudah banyak tools dan software yang bermunculan untuk membantu mudahnya suatu pekerjaan, hanya kesadaran kita untuk mau mempelajari dan memanfaatkannya.

  • Kreativitas dan inovasi
Kreativitas adalah kemampuan untuk berpikir diluar nalar dan tanpa batas, pemikiran yang dapat menghubungkan dua atau lebih hal yang awal tidak ada hubungan. Kreativitas cocok digunakan dalam era karena AI tidak memiliki kemampuan untuk berpikir kreatif dan hanya dapat menganalisis dan menjalankan perintah. Kreativitas untuk menggabungkan dua atau lebih hal menjadi lebih baik disebut inovasi.

Kreativitas akan menumbuhkan invoasi berlanjut dimana banyak pihak diuntungkan, misalnya bidang pendidikan, kesehatan, hingga pembisnis.

  • Kolaborasi dan kepemimpinan
Kenapa skill pemimpin dan ingin berkolaborasi itu penting? Kolaborasi yang dimaksud bukan kolaborasi internal melainkan kemampuan untuk menghubungkan orang-orang dari lokasi yang berbeda. Digitalisasi membuat kita dapat bekerja dalam daring, namun untuk memimpin sebuah kelompok yang bahkan tidak di dalam satu ruangan tidaklah mudah, memerlukan suatu wawasan yang luas untuk mengontrol kelompok tersebut.

Untuk menjadi pemimpin yang berwibawa harus memiliki emotional intelligence (EQ), dimana seseorang harus sabar sekaligus tegas dalam menghadapi dan mengajari kelompoknya, berusaha untuk memahami satu sama lain, mengerti keadaannya, dan memberi solusi. 

Seorang pemimpin juga harus memiliki long term goals dan mindset untuk terus berkembang, supaya dapat memberi pembelajaran dan motivasi kepada kelompoknya. Tujuan yang ingin dicapai harus mengikuti standar SMART, dimana harus spesifik, terukur, dapat tercapai, realistis, dan dapat dijadwalkan.




Sumber:
  • https://berijalan.co.id/article-detail/skill-masa-depan-2025-10-keterampilan-wajib-agar-karier-tetap-relevan-di-era-ai
  • https://bisnisdigital-mj.feb.trisakti.ac.id/keterampilan-yang-dibutuhkan-di-era-ai/

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

APAKAH BELAJAR EFEKTIF BAGI MAHASISWA JIKA AI SUDAH TAHU SEMUA?

Ilustrasi AI Sebagai Pengganti Pikiran Manusia - Sumber Pinterest Perkembangan AI dan Tantangannya bagi Mahasiswa Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, terutama bagi mahasiswa. Jika dulu mahasiswa harus mencari informasi melalui buku-buku tebal, melakukan riset manual, atau berdiskusi panjang untuk memahami suatu konsep, kini hampir semua pertanyaan dapat dilemparkan kepada AI dan langsung mendapatkan jawaban secara cepat, lengkap, dan detail. AI modern tidak hanya mampu memberikan penjelasan singkat, tetapi juga dapat menyertakan sumber, catatan pembatasan, bahkan menyusun argumen yang koheren seperti layaknya seorang pakar akademik. AI saat ini telah dibekali kemampuan menyimpan, memproses, dan menyajikan ratusan ribu hingga jutaan informasi dalam hitungan detik. Selain itu, teknologi generatif memungkinkan AI membuat visual seperti foto, video, desain, hingga animasi yang sebelumnya ...

PADA ERA TEKNOLOGI AI, JAWABAN MUDAH NAMUN PEMAHAMAN SULIT

Ilustrasi Berpikir - Sumber Pinterest Belajar di Era AI: Kemudahan, Tantangan, dan Cara Mahasiswa Mempertahankan Pemahaman Dulu, kegiatan belajar selalu identik dengan proses pencarian informasi yang panjang dan melelahkan. Mahasiswa harus membaca buku berulang-ulang, membuat catatan tangan, berdiskusi, menganalisis, dan mencoba memahami konsep dari berbagai perspektif. Proses ini memakan waktu, tetapi justru di situlah nilai belajar terbentuk—melatih kesabaran, ketelitian, dan kemampuan berpikir kritis. Namun kini, dengan hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), cara belajar berubah drastis. Banyak hal yang dulu memerlukan waktu berjam-jam kini bisa diselesaikan dalam hitungan detik. Mahasiswa tinggal mengetik pertanyaan, dan AI langsung memberikan jawaban secara cepat, terstruktur, dan lengkap. Semuanya tampak praktis, efisien, dan mudah dilakukan. Namun kemudahan ini melahirkan pertanyaan baru: apakah pemahaman justru menjadi lebih sulit di era teknologi? Apakah...

MENGGUNAKAN AI UNTUK PROJEK VISUAL UNTUK BISNIS RETAIL DAN PEMASARAN

Sinergi AI dan manusia Pemanfaatan Teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam Desain Visual Retail dan Pemasaran di Era Digital Perkembangan era digital membawa transformasi besar terhadap perilaku masyarakat, terutama konsumen. Paparan visual yang begitu masif di internet, media sosial, dan berbagai platform digital membuat konsumen semakin selektif sekaligus jenuh terhadap standar visual yang monoton. Dalam konteks bisnis retail dan pemasaran, kondisi ini menciptakan dorongan bagi para pelaku usaha untuk mengeksplorasi pendekatan baru agar pesan mereka tetap relevan dan mampu menarik perhatian. Salah satu terobosan yang semakin mendapat perhatian adalah pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam proses desain visual. AI tidak lagi dipandang sekadar alat otomatisasi yang menggantikan pekerjaan teknis, tetapi telah berkembang menjadi partner kreatif yang mampu berkolaborasi dengan manusia. Teknologi ini membantu mempercepat proses produksi, memperluas variasi visual,...