Teknologi AI memang terkenal akan kecepatan dalam menghasilkan sebuah konten, bahkan rata-rata kecepatan berpikir dan menghasilkan dapat dilakukan dalam hitungan detik. Teknologi AI menang sudah banyak berkontribusi dalam industri kreatif kita, pengembangan film dan 3D visual tidak akan berkembang sepesat ini tanpa bantuan AI.
Bayangkan saat seorang mahasiswa di industri kreatif menggunakan teknologi AI untuk membuat ilustrasi, poster atau animasi, ia tidak hanya memilih bentuk, warna, komposisi yang dikembangkan dalam suatu prompt atau perintah. Lalu teknologi AI akan menjalankan perintah dan menghasilkan beberapa karya pilihan yang menurutnya relevan.
Sumber masalah
Apakah teknologi AI saat menghasilkan jawaban tersebut merupakan hasil original dari perintah dan pemikiran mahasiswa atau openAI mencari sumber dari internet dan mengambil sumber yang menurutnya relevan dengan perintah. Hal ini menjadi salah satu perbincangan yang populer hari-hari ini, apakah dengan mudahnya informasi dan pembuatan konten, etika dan tanggung jawab jadi hilang.
Pada akhirnya, masalah menjadi topik yang serius, isu hak cipta pun muncul. Berita lokal mencatat bahwa tren “Ghibli AI” yang mengubah foto menjadi animasi ala karakter populer menimbulkan kekhawatiran tentang pelanggaran hak cipta, singkatnya teknologi AI mampu menyamakan animasi tingkat studio Ghibli dimana orang-orang dapat membuat karya mirip studionya tanpa mengeluarkan tenaga dan biaya sedikitpun.
Teknologi AI kedepannya
Dari sisi filosofi seni, original selama ini diasosiasikan dengan gagasan, ekspresi unik, dan keaslian pengalaman kreatif. Namun, ketika teknologi AI mampu memproduksi variasi gaya yang tak terbatas dari dataset yang besar, maka unik, bisa jadi hanya sekedar perbedaan prompt bukan perbedaan gagasan mendalam.
Walaupun begitu, ada potensi positif. Teknologi AI bisa dilihat sebagai amplifier. Seperti dalam industri kreatif Indonesia yang mulai memanfaatkan AI generatif dalam kampanye iklan besar, memperluas jenis medium dan ide yang bisa dieksplorasi.
Akhirnya, kesimpulan yang bisa ditarik adalah ide original masih bisa ada, namun definisinya bergeser. Tidak lagi hanya “ide murni manusia” tetapi “ide manusia yang memanfaatkan AI secara kreatif dan kritis”. Bagi mahasiswa DKV/desain/komunikasi di Indonesia, bahan refleksi ini sangat relevan. Bukan hanya soal teknologi AI tetapi soal etika kreatif, keaslian budaya, dan nilai manusiawi dalam setiap karya.
Sumber:
- https://kumparan.com/kumparantech/survei-kumparan-74-masyarakat-ri-yakin-ai-bisa-memperkaya-seni-dan-kreativitas-265YP1Ft0r3/full
- https://www.ums.ac.id/berita/teropong-jagat/menyelisik-pelanggaran-hak-cipta-di-balik-tren-ghibli-ai
Bagus dan mudah di pahami👍
BalasHapusinformasi mudah dipahami
BalasHapus